Sunday, August 21, 2011
Rasa panas
Rasa haus
Rasa lapar
Apakah kalian merasakan apa yang kami cicipi dahulu?
Di hari itu
Masih kami ingat dengan jelas
Berusaha dengan seteguh mungkin untuk memecah karang di lautan
Hanya untuk mengibarkan Sang Saka tercinta
Masih kami ingat dengan jelas
Berusaha dengan seluruh keringat dan peluh
Dengan darah yang mungkin masih tertanggal di balik perban kami
Kami bersorak penuh kemenangan
Kami bersorak penuh kebahagiaan
Ketika Sang Saka berkibar
Apakah kalian merasakan apa yang kamu rasa dahulu?
Kami menyadari
Perjuangan kami dahulu mungkin sudah kalian lupakan
Perjuangan kami dahulu memang sudah usang
Sudah 66 tahun Indonesia kita merdeka
Kalian tak mengingat peluh kami lagi
Perjuangan memerangi senjata
Perjuangan memerangi peluru
Perjuangan dengan ditemani bambu runcing
Maupun dengan sistem gerilya
Perjuangan mengibarkan Sang Saka
Sudahkah tak kalian rasakan lagi?
Walau kalian merasa panas
Walau kalian merasa haus
Walau kalian merasa lapar
Kami harap perjuangan kami masih kalian ingat
Walau hanya sedikit
Walau hanya setetes
Walau sudah 66 tahun
Rasa panas
Rasa haus
Rasa lapar
Apakah kalian masih merasakan apa yang kami rasa dahulu?
Labels: puisi
Saturday, July 30, 2011
Guru agamaku sering mangajariku
Bahwa dengan mendzalimi diri sendiri itu merupakan suatu dosa.
Contohnya seperti bunuh diri.
Narkoba.
Dan sebangsanya yang bisa menyakiti diri sendiri.
Bahkan kalau kita lapar tapi kita menunda makan, itu juga salah satu darinya.
Sekarang.
Mungkin aku sedang berdosa.
Aku.
Yang selalu menyakiti hati keciku.
Terlalu jujur.
Itu menyakitkan.
Sekarang.
Aku menulis puisi ini sambil menangis.
Kau takkan tau.
Kau takkan merasakan.
Kuyakin itu.
Sekarang.
Maafkan Aku ya Tuhan.
Memang Aku menyukai dia.
Tapi ini hanya mendzalimi diriku sendiri.
Sekarang aku menangis, Ya Tuhan
Aku yakin dia udah mengetahui semuanya.
Dia anak cerdas.
Semua ciptaan-Mu cerdas.
Tapi apa yang terjadi?
Sekarang aku justru menangis.
Menikmati setiap butir air mata yang mengalir di hamparan pipiku.
Satu.
Dua.
Tak terhitung lagi berapa.
Apa aku menyukai orang yang salah?
Yang nggak pernah tau ‘bagaimana’?
Yang nggak tau siapa ‘aku’?
Apa ini yang namanya menangisi diri sendiri?
Mendzalimi diri sendiri?
Aku harap tidak.
Dosa yang kupunya terlalu banyak Ya Tuhan.
Sudah membuang waktu dengan percuma.
Hanya berharap dia lewat di depanku.
Sudah berpura pura tak menyadari kehadirannya.
Jika dia menoleh padaku.
Akulah pembohong kecil yang tak tau malu.
Aku akan jadi diriku sendiri.
Selalu begitu.
Tak peduli kau akan berkata apa.
Aku hanya ingin ada seseorang.
Yang nanti akan menerima begitu banyak kekuranganku.
Akulah pembohong kecil.
Yang selalu menyakiti hati sendiri.
Akulah pembohong kecil.
Yang selalu mendzalimi diri sendiri.
Ketika ku menyukaimu.
Maafkan aku.
Aku terlalu egois.
Tapi aku akan selalu mendoakanmu.
Bahkan walau aku tak menyukaimu kelak.
Ketika jiwa dan raga berpisah.
Ketika aku menyukaimu.
Maafkanlah kesalahanku.
‘kau tak pantas menjadi dokter’
‘terlalu banyak khayalan’
‘jangan sampai gila’
‘jangan banyak berharap’
Kira kira surah banyak orang yang berkata seperti itu.
Terasa pedas.
Perih.
Seketika ku menggigil.
Takut.
Memang.
Mungkin aku sebaiknya menjadi penulis.
Aku nggak perlu dibayar.
Asal aku dapat membuat orang lain tertawa dan berpengetahuan luas.
Kelebihan dan kelemahanku ada di dalam satu hal.
Khayalan.
Sama seperti judul ini ‘khayalan’.
Ini bukan puisi.
Apalagi cerpen.
Entah ini dalam bentuk apa.
Aku suka menulis.
Semenjak SMP.
Ketika aku ingin bersekolah di pulau seberang.
Temanku segera berkata ‘itu tak mungkin’
Aku sampai bermimpi bahwa aku dapat diterima.
Aku masih dalam keadaan semangat menggebu.
Tapi segera lengser ketika ku tak diterima.
‘mungkin ini yang terbaik’ batinku.
Aku suka mengkhayal.
Mulai dari kehidupanku besok.
Apa yang akan kulakukan besok.
Sampai kalau nanti aku bisa menikah dan mempunyai anak.
Terlalu jauh.
Frontal.
TIDAK REALISTIS.
Aku sering berkhayal.
Suatu saat nanti aku akan dapat laki laki yang baik hati.
Dia datang bersama imam terbaik.
Bahkan tidak perlu lagi merasakan derita.
Aku anak yang baik.
Makanya aku nggak boleh menangis.
Itu membuat orang lain sedih jika itu terlihat.
Aku akan menjadi jahat karena mereka akan mengkhawatirkanku.
Itu kata kata yang selalu ada di hatiku.
Aku hanyalah seorang pengkhayal.
Seorang yang pengecut.
Tidak bisa menerima apa yang terjadi di dunia.
Aku hanya bisa mengkhayalkannya.
Memimpikannya.
Mungkin aku hanya bisa menjadi penulis.
Yang dapat mengkhayal untuk tokoh tokoh dalam bukuku kelak.
Tentu saja, bukan di dunia nyata.
BUKAN
Itu sisi negative dari semua khayalanku.
Dia, orang yang kusuka.
Tidak memiliki kekurangan apapun.
Aku?
Tidak mempunyai kelebihan apapun.
Objection!
Hanya khayalanlah kelebihanku.
Hanya khayalan dan soft skill yang kupunya.
Tapi dengan adanya khayalan yang melintas.
Aku lebih siap menghadapi kehidupan yang pahit.
Kejam.
Kasar.
Keras.
Berliku.
Menyulitkan.
Selalu berpikir positif.
Berharap KHAYALAN MENJADI NYATA.
HARAPAN MENJADI REALITA.
Walaupun sudah sekian ribu harapan yang kutuliskan.
Itu belum menjadi nyata seutuhnya.
Aku bangga jadi aku.
Aku nggak akan bangga jika kuberhasil tapi dengan cara ‘aku menjadi dia’.
Nggak akan pernah.
Terkadang.
Aku mempunyai khayalan yang benar benar bodoh.
Kau akan menyukaiku juga.
Hanya khayalan.
Ya.
Hanya khayalan.
Bahkan walau kau tahu apa yang kurasakan sekalipun.
Kau tak tau harus berbuat apa bukan?
Selalu menjauh.
Apa kau terlalu membenciku?
Apa itu berarti kau justru menyukaiku?
Itu hanya khayalan.
Aku hanya berharap kau bisa memandangku sedikit.
Ah, aku mengkhayal lagi.
Maafkan aku.
Aku terlalu banyak bermimpi bisa membuatmu bahagia dengan adanya aku.
Sebaliknya.
Kau justru akan bersinar jika tak ada aku di sisimu.
Walaupun begitu.
Biarkanlah khayalanku tetap menari nari dalam benakku.
Karena hanya itulah kekuatan utamaku untuk bertahan.
Tolong.
Tolong.
Tolong jangan halangi aku untuk berkhayal.
Justru karena ku tahu kau takkan jadi milikku.
Aku menghibur diri dengan puisi ini.
Akan kutumpahkan segalanya.
Di dalam anganku.
Di dalam genggamku.
Di dalam khayalanku yang tertinggal.
Thursday, July 21, 2011
Puisi sebagai Pengungkap Perasaan (kata Bu Bangun)
0 comments Posted by Ulima Mazaya Ghaisani at 5:32 PMBintang
Aku selalu memandangimu setiap malam
Mengharap kau hadir ditengah kegembiraanku
Bintang
Aku selalu menantimu
Menemani aku
Ketika ku terpuruk
Sekarang aku sedang menangis, bintang
Bahkan rambut mataku tak sanggup untuk menyekanya sendiri
Mataku berlinang air mata
Bersiap menghujani pipiku
Kucoba untuk menutup muka ini
Agar tak terlihat oleh siapa pun
Tapi sia sia
Aku tak bisa
Bintang
Hanya dengan puisi ini aku dapat menggenggammu
Walau ku tau itu takkan mungkin menjadi nyata
Walau hanya dengan merasakan cahayamu
Aku sudah dapat mengendalikan semua egoku
Bintang
Puisi ini memang tak sehebat karya Chairil Anwar
Tapi kau harus tau, Bintang
Aku ingin mencurahkan semua perasaanku dalam setiap bait ini
Perasaan sedih dan tersiksa
Bintang
Aku tak pernah memintamu memberikan jawaban
Karena kau terlalu jauh disana
Bahkan terkadang
Aku benar benar tak dapat melihatmu karena terangnya lampu menyala
Aku akan selalu menantimu
Untuk terus menceritakan semua kisah hidupku
Semoga kebahagian tak berujung pada tangisan
Semoga ulasan senyum tak berujung tersiksanya batin
Bintang
Aku cukupkan sampai ke sini
Aku akan berusaha semampuku untuk mengatasi kesulitan ini
Dengan bijaksana
Dengan tegar
Dengan jiwa positif
Kurasa kau pun telah lelah mendengar ceritaku bintang
Terimakasih untuk kali ini
Kau selalu ada
